Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Lupa

Gambar
Gambar oleh <a href="https://pixabay.com/id/users/cocoparisienne-127419/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=2353703">cocoparisienne</a> dari <a href="https://pixabay.com/id/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=2353703">Pixabay</a> Lupa  by: Weedee Mataku terbuka perlahan, gelap sekali. Tidak ada sedikitpun cahaya. Napasku terasa sesak, pengap, dan seperti ada yang mencekikku. ‘Aku dimana?’ gumamku pada diri sendiri. ‘Bau apa ini?” tanyaku lagi entah pada siapa. Aku mencoba menggerakkan tubuhku yang terasa kaku. Kucoba berkali-kali, tetapi tetap saja aku merasa terikat. Siapa yang mengikatku? Mengapa aku diikat seperti ini? Apa salahku? Bertubi-tubi pertanyaan muncul di benakku. Apa yang terjadi padaku? Aku mulai menangis, sedih, takut, geram, dan marah menjadi satu yang pada akhir

Tertipu

Gambar
TERTIPU Paijo senyum-senyum sendiri di atas tempat tidurnya. Sambil matanya tidak lepas dari gawai. Sesekali dia terlihat mengetik sesuatu. Senyumnya tambah lebar kelihatan sekali dia sedang bahagia. "La ... Ngapa lu ketawa-ketawa sendiri dari tadi? Lupa minum obat lu?" tanya Reza teman sekamarnya. "Apaan sih, Ah," kata Paijo singkat dan padat. Belum lagi Reza bicara, tiba-tiba .... "Akhirnyaaaaa ... Gue diterima. Alhamdulillah ... Gue diterima, Za. Gue gak jomblo lagi," teriak Paijo dengan antusias.  Tak lupa dia koprol tujuh kali, push up, skot jump dan juga lari keliling kos-kosan tujuh kali. Saking senangnya si Paijo sampai dia lupa kalau dia belum pake celana kolornya. Alhasil hebohlah kos-kosan tempat Paijo dan kawan-kawannya bernaung. Apalagi hari masih pagi, jam segini biasanya ibu-ibu komplek lagi pada ngumpul menunggu abang tukang sayur datang. Begitu para ibu melihat Paijo berlari keluar cuma pake celana dalam

CINTA YANG TERLUKA

Gambar
Cinta yang Terluka By: Weedee                   Rani menatap dingin pada tubuh yang telah terbujur kaku di depannya. Pisau di tangannya masih dia genggam dengan erat. Selesai sudah, lelah ini akhirnya berakhir ... Dipo Surya, cowok idola di kampus Universitas Panca Guna memang selalu bisa menawan hati siapa saja. Terutama kaum hawa dari berbagai kalangan usia. Entah anak SMU, mahasiswi sampai tante-tante kesepian berkantong tebal. Namun, hari ini seorang gadis yang putus asa telah mengakhiri petualangan cowok berpostur tinggi dengan kulit bersih dan senyum yang berhiaskan lesung pipi itu. Rani masih tak percaya dengan penglihatannya, cowok yang sangat dikenalnya itu ada di kamar tidur Mamanya. Terbaring tanpa busana, di atas ranjang besar dan mewah berhiaskan ukiran asli Jepara berwarna keemasan. Sementara dari kamar mandi terdengar suara Nyonya Bekti-Mamanya Rani-sedang bersandung dengan bahagia. Sejak kedua orang tuanya berpisah beberapa tahun yang lalu, Rani

KASIH TERLARANG

Gambar
<a href="https://pixabay.com/id/photos/pernikahan-pengantin-gaun-wanita-2693605/">Image</a> by <a href="https://pixabay.com/id/users/Greenstock-5970024/">Greenstock</a> on Pixabay caption KASIH TERLARANG Senja, selalu mengingatkan aku padamu. Hangatnya sinar mentari, serasa bagai pelukan seorang yang aku rindukan. Warnamu yang mempesona, seindah raganya yang telah mengikat jiwaku. Senja masih menunggumu di sini. Menunggu terbitnya fajar esok hari... *** Senja masih berdiri mematung. Bergeming dari tempatnya berdiri. Seperti hari-hari sebelumnya, menatap laut yang disinari mentari kala senja memang tak pernah membosankan. Selalu ada saja bias warna baru tercipta. Gelap mulai merambat. Menguasai seluruh alam. Karena sang malam telah bersiap menjalankan tugasnya. Menemani seluruh alam dalam istirahatnya. Senja belum beranjak dari tempatnya. Seperti biasa, tugas Bayu untuk mengingatkan pada Senja agar segera pulan

WAKTU

Gambar
Ingin rasanya menghentikanmu walau hanya sejenak. Ingin rasanya kuputar lagi kembali ke masa itu. Masa ketika aku pertama mengenalmu. Masa-masa terindah sepanjang hidupku. Waktu berlalu terasa sangat cepat. Tak terasa kebersamaan kita sudah lebih sepuluh tahun. Mengenalmu selama rentang waktu itu, membuat aku semakin menyadari, kau memang bukan semata untuk aku. “Siapa lagi dia?” tanyaku kecewa. “Yang mana?” tanyamu tanpa rasa bersalah. Aku menunjukkan sebuah chat yang masuk ke gawainya. Kau tampak tersenyum, sejurus kemudian kau sudah tak memedulikan aku. Kau tampak terlibat percakapan seru. Tawamu sesekali terdengar sangat bahagia. Aku? Sendiri terpaku di sudut kamar sambil berusaha menahan bulir bening di sudut netraku agar tak jatuh. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Aku mengira sudah bisa menaklukkanmu. Menundukkan semua egomu. Namun, aku salah. Kau masih dengan ego terbesarmu. Masih dengan segala ambisimu. Tanpa pernah peduli apa yang aku rasa.