KASIH YANG HILANG




Kasih tersadar dari pingsannya setelah beberapa hari dia terbaring di rumah sakit. Hal terakhir yang dia ingat sedang menyeberang jalan. Tiba-tiba ada mobil yang menabrak tubuhnya hingga terpental.


Kasih sudah lima hari tak sadarkan diri. Lukanya cukup serius. Beruntung ketika kecelakaan itu terjadi, Kasih sedang sendiri. Dia sempat menitipkan nenek yang dirawatnya pada teman sebelum dia pergi.

“Kasih, dokter mengatakan kalau ...,” Nyonya Huang tak sanggup meneruskan kalimatnya.

“Apa kata dokter, Nyonya?” tanya Kasih gusar.

“Dokter mengatakan ... kemungkinan besar kamu akan mengalami kelumpuhan,” kata Tuan Huang. 

Walau sebenarnya dia tak tega mengatakan. 

“Tetapi, dokter akan mengusahakan kesembuhan dengan cara lain,” lanjut Tuan Huang berusaha menghibur kasih. 

Hilang sudah semua mimpi dan cita-cita Kasih. Pulang dengan membawa kesuksesan agar keluarga dan anak-anaknya bangga padanya. Semua angan dan impiannya harus pupus di tengah perjuangannya. Mau tidak mau dia harus pulang. Siapa yang mau mempekerjakan seorang yang lumpuh?

Kasih menangis tanpa suara. Terbayang wajah kedua buah hatinya. Seandainya delapan tahun lalu dia mau mendengar ucapan suaminya, tentu kejadian ini tak akan terjadi. 

‘Maafkan aku, Pak,’ Hanya itu yang Kasih bisa ucapkan. 
Delapan tahun meninggalkan keluarga tanpa mengabari mereka sedikit pun. Kasih pergi dengan amarah yang membuncah. Kini dia hanya bisa menangis. Dalam sesal yang amat sangat, dia memanjatkan doa.

‘Ya Allah, ijin kan hamba meminta maaf pada keluarga hamba. Pada suami dan anak-anak hamba. Hamba pasrahkan hidup ini pada-Mu. Ampuni segala keangkuhan hamba selama ini. Ampuni segala dosa yang telah hamba lakukan. Ampuni hamba yang selalu menjauh dari-Mu,’ Kasih tak sanggup lagi meneruskan doanya. 

Air matanya sudah membanjiri wajahnya yang masih sedikit bengkak. Dia merasakan perih di bagian pipi kirinya. Menurut dokter luka di wajahnya akan membekas, untuk memulihkannya perlu biaya yang tak sedikit dengan operasi plastik.

Kasih berada dalam kondisi jiwa yang pasrah. Tak ada keinginan lain selain bertemu keluarganya saat ini. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, tampak cahaya putih menyilaukan. Semakin lama semakin terang dan mata Kasih tak sanggup melihatnya. Dari balik cahaya putih itu, muncul seorang berpakaian serba putih. Wajahnya bersih dan bercahaya. Senyumnya terasa sangat mendamaikan dan menenangkan hati Kasih. Tak ada rasa takut sedikit pun di hati Kasih. 

Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya, dia mengangguk seraya tersenyum. Kasih menggelengkan kepalanya. Tak mungkin dia bangkit. 

“A--aku lumpuh,” kata Kasih terbata.

Dia menggelengkan kepalanya, “Tidak, kamu tidak lumpuh. Bangunlah. Aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Kasih tak mengerti, tetapi dia menerima uluran tangannya. Perlahan dia menggerakkan kakinya. Kasih tak percaya, dia tidak lumpuh! Dia bangkit dan berdiri. Perlahan berjalan dengan dituntun oleh sosok bersinar yang membawa keajaiban. 

Dengan tertatih, Kasih melangkah memasuki sinar putih yang menyilaukan matanya. Dia tak peduli mau dibawa ke mana, yang dia tahu saat ini dia bisa berjalan. Kasih menyusuri lorong panjang, dia tak bisa melihat apa pun, sinar putih menyilaukan itu membuat matanya tak bisa terbuka sempurna.

“Teruslah melangkah, kamu akan menemukan apa yang kamu inginkan dalam doamu.”

Sosok itu melepas tangannya, dan membiarkan Kasih berjalan sendiri. 

Kasih meraba mencari pegangan agar langkahnya tak tersesat. Sinar putih itu lama kelamaan tak lagi menyilaukan. Ada suara anak-anak sedang bermain dan bergurau. Bahagia sekali kedengarannya. Kasih mempercepat langkahnya. Dia seperti mengenal suara itu. 

“Makkk, Mas Danang nakal.” 

Seorang gadis kecil tiba-tiba memeluk Kasih. Ada seorang bocah lelaki berbadan gempal mengejar sambil membawa sebatang ranting. Ada ulat kecil berwarna hijau berjalan di atas ranting tersebut. 

Gadis kecil itu berteriak manja sambil berusaha bersembunyi di balik tubuh Kasih. Bocah lelaki berwajah tampan itu masih mengejarnya. Kasih masih tak mengerti apa yang terjadi. Sesaat yang lalu dia masih terbaring di rumah sakit dengan perban membungkus hampir sekujur tubuhnya. Kini dia ada di antara dua bocah yang selama delapan tahun menghiasi mimpinya tiap malam. Perban di tubuhnya hilang, berganti dengan baju daster yang sudah tak bagus lagi. Tapi anehnya, mereka tak berubah, masih sama seperti ketika Kasih meninggalkan mereka. 

Dua buah hatinya Danang dan Gadis. Ketika itu mereka masih berumur enam dan delapan tahun. Sekarang di depan Kasih anak-anaknya masih sama. Kasih menatap mereka, antara tak percaya, dan tak mengerti apa yang sedang terjadi.

Kasih memeluk Gadis sambil berurai air mata. Tangannya meraih tubuh Danang. Merengkuhnya dalam pelukan. Menciumi mereka bergantian, memastikan bahwa ini bukan mimpi. 

Buah hati kasih saling menatap tak mengerti. 

“Mamak kenapa? Mamak sehat?” tanya Gadis polos.

“Mamak kangen kalian,” kata Kasih di tengah tangis bahagianya.

“Kangen? Mamak kan barusan pergi ke kali cuci baju,” ujar Danang semakin tak mengerti. 

“I—iya. Tapi, Mamak sudah kangen sama kalian. Kalian enggak kangen Mamak toh?” jawab Kasih sedikit gagap.

“Ha ha ha ... Mamak ini lucu, masa ke kali dekat situ saja sudah kangen. Apalagi nanti kalau Mamak jadi pergi ke Taiwan,” kata Danang sambil tertawa. 

Tiba-tiba Gadis memeluk Kasih, “Mamak, enggak usah pergi ke Taiwan ya, Mak?” pintanya. 

Bulir bening mulai mengalir di pipinya yang montok dan hitam. Kasih berjongkok di depan gadis kecil yang manis dengan lesung pipi yang selalu menghiasi senyumnya. Membelai rambutnya yang kecokelatan. Mengecup keningnya dan merengkuhnya dalam pelukan.

“Enggak, Nak. Mamak janji enggak akan meninggalkan kalian. Biar kita di sini, berkumpul sama Mas Danang dan bapak. Mamak enggak akan meninggalkan kalian lagi,” Kasih tak sanggup lagi menahan air matanya. Mereka bertiga menangis berpelukan. 

“Mak, ada Pak Toyo datang,” suara seorang lelaki membuat Kasih melepas pelukannya.

“Pak ....” Kasih menghambur ke pelukan lelaki yang berwajah mirip anak lelakinya. Ilham, lelaki berkulit hitam manis itu keheranan. Dia tak mengerti kenapa istrinya menangis di pelukannya. 

“Maafin Bapak, Mak. Kalau tadi malam Bapak ngomong kasar sama Mamak,” ucapnya sambil membalas pelukan wanita yang sangat dicintainya.

Kasih hanya mengangguk. Tak bisa berkata-kata. Hatinya sangat bahagia bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan keluarganya. 

“Pak Toyo nunggu di depan, Mak,” ujar suaminya sambil mengusap air mata Kasih.

“Bapak bilang sama Pak Toyo, Mamak enggak jadi pergi ke Taiwan. Mamak mau di rumah saja. Berkumpul sama kalian lebih berharga daripada apa pun di dunia ini,” kata Kasih mantap sambil menatap buah hati dan suaminya bergantian. 

***

Dikabarkan seorang Pekerja Migran Indonesia yang mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan lalu lintas, hilang secara misterius dari Rumah Sakit Ta Ai di Taipei. 

Weedee
Shanhai
1212019


Komentar

  1. Kasih ternyata nama orang. Menghilang secara misterius... Sedih...

    BalasHapus
  2. Hah? Jadi ini true story mba? Aduh ngeri juga yah kemana kira2 kasih. Wallahu'alam. Apakah ikut perjalanan waktu kayak di drakor? Hmm

    BalasHapus
  3. Aduh mbak ceritanya bagus...terharu tapi juga mistis. Tapi enggak ada yang enggak mungkin bagi Allah.

    BalasHapus
  4. Maksudnya,Mba Kasih ke mana? Pulang kah? Tapi kan, mba Kasihnya lumpuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena doa dia, minta ampun kakinya disembuhkan oleh mukjizat

      Hapus
  5. Ini cerita FF atau mustis mbak, hihi... Tapi bagus ih

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuma ff mba... ada bagian berdasar kisah nyata yang dikombinasikan dengan imaginasi

      Hapus
  6. Endingnya unpredictable. Tinggal poles-poles dikit di bagian diksinya. Cakeplah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mba.... gak mahir mainan diksi...ajarin dong...

      Hapus
  7. Wow. Tadi sempat mengira kalau Kasih meninggal dunia trus roh-nya menemui anak2nya :)
    Ternyata, misterius...

    BalasHapus
  8. Oo Mbak Kasihnya kembali pulang ke rumahnya gitu.
    Subhanalloh ... bener kah cerita ini mbak? 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak sepenuhnya ...cuma 75 persen kisah nyata...bagian yang lain imaginasi dari seoranaaga ibu yang pengen pulang ke indonesia tapi gak berani karena keadaannya yang gak memungkinkan..

      Hapus
  9. Yesss..endingnya twist takterduga. Soalnya gak tega saya kalau sampai Kasih merana dalam kelumpuhan di Taiwan. Hiks..oke mbak idenya. Mengangkat tema buruh migran yang kadang kisahnya tak semanis harapan. Keep writing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, banyak mimpi yang harus kandas karena keadaan ataupun karena ulah sendiri

      Hapus
  10. Terinspirasi dari kisah nyata kah? Wow,speechless...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba... kisah nyata seorang BMI, yang kecelakaan tapi gak berani pulang karena dia juga nengabaikan keluarganya..

      Hapus
  11. Ceritanya bagus, ternyata kisah nyata ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebagian kisah nyata sebagian imaginasi

      Hapus
  12. sebagian kisah nyata, sebagian imaginasi mba..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Witness

The New Comer