TETANGGAKU



TETANGGAKU
Cindy memeluk buku yang baru saja dibeli di toko buku langganannya. Buku dari penulis favoritnya. Putra Bintang penulis idola Cindy yang bukunya selalu dinantikan oleh jutaan penggemar di Indonesia.
Putra Bintang adalah penulis kisah remaja masa kini. Semua tulisannya berkisah tentang kehidupan remaja. Kehidupan yang penuh warna warni cerita yang selalu menarik untuk dituliskan. Tak seperti kebanyakan penulis, Putra Bintang menulis dengan bahasa yang sangat dimengerti oleh para remaja ABG penggemarnya. Bahasanya yang sederhana dan polos, khas remaja. Tak ada kesan menggurui ataupun menghakimi di setiap tulisannya. Itulah salah satu alasan kenapa bukunya selalu ditunggu oleh penggemar.
[Fa, aku udah dapat bukunya Putra Bintang] Cindy mengirim pesan pada Ifa sobat kentalnya.
[ciyussss?????] Ifa membalas.
Cindy mengirim foto buku terbaru Putra Bintang, tentunya dengan foto dirinya juga yang sedang tersenyum sambil memegang buku barunya.
[OMG] emot menganga keheranan dikirim Ifa.
Cindy mengirim emot senyum lebar.
***
Cindy memamerkan buku barunya pada teman-teman di kelasnya. Dia bangga karena bisa membeli buku penulis idolanya pada saat pre order baru saja dibuka. Hampir dua bulan Cindy menyisihkan uang sakunya. Karena harga buku karya idolanya memang tidak murah. Kalaupun ingin mendapatkan harga murah, harus mengikuti sistem pre order. Cindy tak peduli berapa pun harga buku dari penulis yang selalu dinantikan karyanya itu.
"Wahhhh, hebat kamu Cin, kamu beli pas PO kemarin itu ya?" tanya Ifa sambil membolak balik buku yang masih terbungkus plastik.
'Iya dong. Kalau beli sekarang, duit gue gak cukup, Fa," kata Cindy bangga.
"Emang Po harga berapa, Cin?" tanya Sari temannya yang lain.
"229," Cindy menyebut harga buku itu dengan agak sombong.
"Wahhhhhh ...," serentak teman-temannya yang sedang mengerumuni Cindy menganga mulutnya.
"Kok bisa mahal banget sih, Cin?" Netty bertanya keheranan.
"Iya. Soalnya PO kloter pertama ada hadiah istimewanya," kata Cindy membuat teman-temannya penasaran.
"Emang hadiahnya apaan, Cin?" Siti yang kalem pun akhirnya ikut nimbrung karena penasaran.
"Kasih tahu gak ya?" kata Cindy menggoda teman-temannya.
"Ihhh, Cindy. Kasih tahu dongggg," rengek teman-temannya hampir bersamaan.
Cindy tertawa senang melihat teman-temannya penasaran.
"Adaaaa aja," kata Cindy sambil membawa bukunya dan berjalan kembali ke tempat duduknya.
Untung bel masuk sudah berbunyi, jadi untuk sesaat Cindy bisa lepas dari rasa penasaran teman-temannya.
***
Cindy memang sangat suka membaca. Sedari kecil dia memang sudah menyukai buku. Walau belum bisa membaca tapi dia sudah akrab dengan buku cerita bergambar yang selalu dibelikan papa dan mamanya. Papa dan mama Cindy bekerja di luar kota. Sedangkan Cindy diasuh oleh kakek dan neneknya sejak berusia empat bulan. Ketika memasuki usia sekolah, sebenarnya papa dan mamanya ingin membawa Cindy ikut bersama mereka. Namun Cindy tak suka tinggal di Jakarta. Baginya jakarta kota yang bising. Dia merasa tak nyaman tinggal di sana.
Cindy memandangi buku barunya. Dia bahkan belum membuka plastik pembungkusnya. Dia berencana membukanya nanti ketika bertemu dengan sang idola di acara jumpa penggemar di Hotel Ambarukmo minggu depan.
"Selamat sore nona cantik," sapa Mas Lintang tetangga sebelah Cindy.
Cindy tak menjawab, hanya bibirnya dimanyunkan beberapa senti ke depan.
"Ha ha ha, kamu kalau begitu tambah cantik loh, Cin," kata Mas Lintang sambil tertawa melihat bibir Cindy yang manyun.
Mas Lintang memang suka sekali menggoda Cindy. Setiap ada kesempatan selalu tak pernah dia lewatkan. Sejak kecil mereka memang akrab. Selain rumah mereka bersebelahan, nasib sebagai anak tunggal dan hidup tak didampingi orang tua membuat mereka seperti kakak adik. Mas Lintang seperti tak pernah kehabisan ide untuk menggoda Cindy.
"Mas lintang, hari Minggu sore ada acara enggak?" tanya Cindy.
"Emang kenapa?" tanya Mas Lintang sambil mencuci motor kesayangannya.
"Antar Cindy ke Hotel Ambarukmo mau, ya?" rayu Cindy.
"Enggak bisa Sayang. Minggu besok Mas ada acara," jawab Mas lintang.
"Acara apaan sih, Mas. Mas Lintang antar Cindy aja. Nanti pulangnya Cindy bisa naik angkot," kata Cindy sambil membantu Mas Lintang mencuci motornya.
"Mas Lintang mau jumpa penggemar," kata Mas Lintang tanpa mempedulikan bibir Cindy yang mencibir.
"Jumpa penggemar? Penggemar dari Hong kong," kata Cindy sambil meraih selang air dan mengarahkan ke tubuh Mas Lintang.
Alhasil sore itu mereka bermain air hingga basah kuyup.
***
Cindy berdiri di antara gadis-gadis remaja yang sedang mengantre untuk bertemu dengan idolanya. Penulis Putra Bintang.Novel terbarunya yang baru saja diluncurkan di pasaran sudah habis terjual lebih dari lima ribu eksemplar. Suatu jumlah yang fantastis, apalagi hanya dalam hitungan minggu.
Cindy berdiri terpaku di depan penulis idolanya. Lidahnya kelu, tak mampu berkata apa-apa. Dia tak ingin mempercayai apa yang dilihatnya tapi ini bukan mimpi.
Idolanya sedang duduk di depannya, seraya tersenyum lebar. Senyum yang selalu dia lihat setiap hari di sebelah rumahnya.
Cindy tak percaya, selama ini dia meng-idolakan tetangganya.

weedee
shanhai
15122018

Komentar

  1. Aduh kalau saya jadi Lintang malu banget mbak 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya mba...kalau kita malu...😂😂

      Hapus
  2. Pernah lo, saya ngalami kaya gini... nggak persis sih . Tapi sesorang yang saya kagumi, ternyata dia teman saya sendiri, heheh

    BalasHapus
  3. Jadi Putra bintang itu adalah Mas Lintang sendiri?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Witness

The New Comer

KASIH YANG HILANG