WAKTU

Ingin rasanya menghentikanmu walau hanya sejenak. Ingin rasanya kuputar lagi kembali ke masa itu. Masa ketika aku pertama mengenalmu. Masa-masa terindah sepanjang hidupku.

Waktu berlalu terasa sangat cepat. Tak terasa kebersamaan kita sudah lebih sepuluh tahun. Mengenalmu selama rentang waktu itu, membuat aku semakin menyadari, kau memang bukan semata untuk aku.

“Siapa lagi dia?” tanyaku kecewa.

“Yang mana?” tanyamu tanpa rasa bersalah.

Aku menunjukkan sebuah chat yang masuk ke gawainya. Kau tampak tersenyum, sejurus kemudian kau sudah tak memedulikan aku. Kau tampak terlibat percakapan seru. Tawamu sesekali terdengar sangat bahagia. Aku? Sendiri terpaku di sudut kamar sambil berusaha menahan bulir bening di sudut netraku agar tak jatuh.


Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Aku mengira sudah bisa menaklukkanmu. Menundukkan semua egomu. Namun, aku salah. Kau masih dengan ego terbesarmu. Masih dengan segala ambisimu. Tanpa pernah peduli apa yang aku rasa.

“Kak, aku mohon. Setidaknya jaga perasaanku. Kenapa kau tega sekali melakukan ini padaku?” tanyaku di tengah isak tangisku

“Kalau kau tak suka, kau boleh pergi dari sini. Aku sudah mengatakan padamu sejak awal kita menikah. Kau engggak lupa, kan?” jawabmu tanpa merasa berdosa sedikit pun.

Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam. Menatap punggungmu berjalan menjauhiku. Sungguh aku tak akan pernah lupa saat kau mengatakan dengan segala kejujuranmu.

“Aku mau menikah denganmu bukan karena cinta. Semua aku lakukan hanya sekadar membuat orang tuaku percaya bahwa aku lelaki normal. Kalau kau setuju, kita akan menikah minggu depan. Bagaimana?” tanyamu kala itu.

Lidahku kelu, tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya berharap waktu bisa mengubah semua perilakumu. Membuatmu bisa mencintai aku dengan tulus. Namun, semua harapan dan mimpiku ternyata hanya sebuah ilusi. Bagai fatamorgana di tengah gurun pasir yang panas.

“Malam ini ada yang akan datang. Kau bisa bantu aku menyiapkan kamarku? Sudah lama kami tak bertemu. Kau pasti tahu rasanya berjumpa dengan orang sangat kau rindukan. Jangan ganggu kami sepanjang malam ini, ok?” ujarmu seakan bicara dengan orang suruhan.

Aku hanya mengangguk. Tanpa bisa melawan. Aku hanya tak ingin terjadi sesuatu dengan janinku. Aku ingat dokter mengatakan minggu ini kemungkinan aku akan melahirkan. Dokter juga bilang aku tak boleh terlalu lelah. Kelahiran normal yang aku inginkan sangat membutuhkan persiapan fisik dan mental.

Pukul 19.35 ...

Kau bersama ‘temanmu’ masuk kamar yang sudah aku siapkan. Benar-benar aku siapkan dengan sangat baik. Aku berharap kau dan dia, menyukainya.

Aku menyiapkan semua perlengkapan bayi yang akan aku bawa ke rumah sakit. Sebenarnya sudah sejak sore aku merasakan perutku melilit. Aku sempat berkonsultasi pada dokter yang merawat aku selama ini. Namun, karena harus mempersiapkan kejutan untukmu dan kekasihmu, aku menunda kepergianku ke rumah sakit.

Aku sudah membawa semuanya. Bahkan untuk hidup kami berdua setelah aku keluar rumah sakit. Karena tak mungkin aku kembali ke rumah itu. Aku yakin tak akan pernah kembali ke rumah yang penuh dengan dosa menjijikkan dari lelaki yang aku panggil suami.

Pukul 00.05 ...

Perjuanganku berakhir, suara tangisan bayi lelaki yang sehat dan montok menghilangkan rasa sakit di hati dan tubuhku.

Aku tersenyum melihat bayiku yang sehat. Namun, aku juga tersenyum untuk rencanaku yang aku yakin sudah sukses terlaksana.

Oh iya sedikit informasi, sebelum aku keluar rumah tadi. Aku sudah mengunci semua pintu dan jendela dengan rapat. Bahkan kamar tempat suamiku dan kekasih sejenisnya melepas rindu, aku kunci dari luar. Jendela kamar tempat mereka memadu kasih, sudah aku segel hingga tak bisa dibuka dengan mudah. Dia sendiri yang berpesan jangan ada yang mengganggunya sepanjang malam. Juga tak lupa aku buka saluran gas di dapur, meletakkan lilin kecil yang menyala di sepanjang anak tangga, agar terlihat romantis kataku pada suamiku.

Lega rasanya, semua berjalan sesuai rencanaku ...



Weedee
Shanhai
1012019

Komentar

  1. kok ceritanya sedih banget sih mba, duh duh duh, ngerih ya sama pasangan sejenis kek gini, saya bacanya merinding. keren mba, keep writing ya!

    BalasHapus
  2. Keren mbak, ditunggu kisah-kisah yang lain

    BalasHapus
  3. Wow ... dahsyat ... awal yang datar makin lama makin naik dan klimaks di akhir. Keren😍😍😍 cakep nih mbak... showingnya juga manis

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Witness

The New Comer

KASIH YANG HILANG