Izinkan aku mencintaimu dengan caraku ...

Izinkan aku mencintaimu dengan caraku ...

By: Weedee


 #Prolog

 

“Kenapa?” tanyamu dengan mata menatap tak mengerti.

 

“Ada apa?” tanyamu lagi berusaha mengendalikan emosi yang aku tahu sudah ada di batas kesabaranmu.

 

“Mengapa baru sekarang?” cecarmu padaku.

 

Aku berusaha menghindari tatapanmu. Tatapan yang selalu membuatku istimewa. Mata yang selalu meyakinkan aku, bahwa aku ‘perempuan istimewa’.

 

“Jujur, ada apa? Ada yang salah dengan kita?” tanyamu masih penasaran.

 

Giliran aku yang menatapnya tak mengerti. Dahiku berkerut, mataku menyipit mendengar pertanyaan terakhirnya.

 

‘Sadar enggak sih, kamu?’ batinku tanpa berani bersuara.

 

Mungkin ini memang salahku. Tuhan sedang menghukumku atas semua kebodohanku!

 

Ya, kebodohan terindah yang pernah aku rasakan.

 

Enam bulan yang lalu, aku mendapat promosi dari atasanku. Sebelum menduduki jabatan yang dijanjikan untukku, aku harus melakukan perjalanan untuk sebuah riset sangat penting. Hari itu, hari yang tidak akan terlupakan dalam hidupku. Tim kami bertemu dengan sebuah tim yang akan bekerjasama selama kurang lebih tiga bulan untuk riset ini.

Riset yang melibatkan dua perusahaan dari dua benua, akhirnya membawaku pada sebuah pertemuan dengan seseorang. Penampilannya yang dewasa, pembawaannya yang tenang, karismanya yang mampu menghipnotis, membuat aku tak mampu melawan rasa yang perlahan tumbuh seiring dengan intensnya pertemuan kami.

 

Pekerjaan yang selalu menjadi alasan untuk membuka komunikasi. Pertemuan demi pertemuan, walaupun tak ada hubungannya dengan pekerjaan, mulai sering kami lakukan. Anehnya aku bahagia setiap bersamanya.

 

Mungkin Tuhan tahu apa yang aku rasakan, hingga akhirnya riset itu selesai sebelum waktunya. Sebuah prestasi yang dipuji banyak orang. Namun, justru membuatku bersedih.

 

Aku terluka ketika harus berpisah dengannya, tetapi ternyata setan tahu mauku. Jarak yang membentang antara dua benua tak lagi terasa, karena aku selalu berhubungan dengannya lewat media sosial, video call, telepon, dan berjuta cara setan untuk terus menjerumuskanku pada rasa ini.

 

Dan, aku semakin bahagia ...

 

“Mengapa kau ingin mengakhiri kisah kita?” tanyamu dengan mata berkaca-kaca.

 

Aku tak lagi bisa menjawab, suaraku tenggelam oleh isak tertahan.

 

“Mengapa baru sekarang?” ucapmu lirih seiring bergulirnya butiran bening di sudut mata birumu.

 

Aku hanya menggeleng, dengan tatapan mata memohon pengertiannya. Selama ini dia selalu tahu apa mauku tanpa aku harus mengatakannya.

 

“Kali ini aku tidak mengerti ...,” ujarmu seraya menunduk.

 

Aku tahu kau ingin menyembunyikan tetesan butiran bening yang mulai mengalir deras dari indahnya matamu.

 

“Mengapa harus menunggu selama ini kalau akhirnya hanya ingin kau akhiri seperti ini,” ujarmu dengan suara parau.

 

Lagi-lagi aku tersekat, tak mampu berkata-kata. Derasnya air mataku harusnya sudah kau pahami bahwa aku juga terluka.

 

Gelengan kepalamu membuat aku semakin merasa bersalah. Kini rasa sesal mulai merayapi hatiku. Mengapa tak sedari dulu aku akhiri  rasa tak pantas ini. Mengapa baru sekarang aku menyadari bahwa rasa ini tak seharusnya dipelihara hingga membelenggu hati kami berdua.

 

“Apa dia tahu tentang kita? Dia marah padamu? Apa aku harus bicara padanya?” cecarmu sedikit emosi. Ada kilat amarah di bayang matamu.

 

“Tidak! Jangan!” ucapku spontan seraya memandang lekat padanya.

 

“Lantas kenapa kamu ingin kita akhiri hubungan ini?” tanyamu melunak.

 

“Aku hanya ingin menyayangimu, mencintamu dengan caraku. Seperti ini saja sudah membuatku bahagia. Walau hanya lewat layar komputer dan handpone, aku sudah puas memandangmu. Percayalah, aku tak akan merusak apa pun. Aku tak akan mengambil siapa pun,” ujarmu berusaha meyakinkanku.

 

“Aku juga tak akan pernah merebutmu dari suamimu ...,” ujarmu lirih penuh luka.

 

 

 

Weedee, Taipei, 2282019


To Be Continue ...


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Witness

The New Comer

KASIH YANG HILANG