Izinkan aku mencintaimu dengan caraku

#Part 1

 

Aku menatap polah bocah kecil lucu yang sedang berlarian di halaman bersama kakaknya. Ada nyeri perlahan merambat di dada, setiap kali melihat senyum di wajah imutnya. Senyum yang mengingatkanku pada seorang lelaki yang sudah menghancurkan segalanya. Ya, segalanya.

“Mama, kakak nakal!” teriak Dafa sambil berlari ke arahku.

Dia mencari perlindungan di balik kursi yang aku duduki. Niatnya bersembunyi dari kejaran kakaknya, Gaza.

“Ma, lihat adik enggak?” tanya Gaza pura-pura tidak melihat adiknya yang bersembunyi di belakang kursi.

“Di mana, ya, tadi?” Aku ikut-ikutan sembari pura-pura berpikir.

Gaza, tersenyum melihat adiknya terlihat puas berhasil sembunyi dari kejarannya.

“Coba Kakak cari di sebelah sana,” usulku sambil menunjuk sudut taman kecil yang agak rimbun.

“Ok, Ma!”

Begitulah setiap sore di akhir minggu, kami selalu bertiga menghabiskan waktu. Terkadang kami pergi ke luar kota atau sekadar berjalan-jalan mengunjungi tempat-tempat wisata di kota kecil ini. Sejak peristiwa menyakitkan itu, aku memilih pergi dari Jakarta, meninggalkan semuanya termasuk karier yang sudah kurintis dari nol. Saat itu karierku sedang berada di puncak. Sebagai seorang wanita, prestasiku di atas rata-rata. Berbagai proyek yang dipercayakan padaku selalu berakhir memuaskan dan sukses besar.

Namun, semua yang ada di dunia ini ada batasnya. Semua ada penyeimbangnya. Hidupku yang penuh dengan kemudahan, akhirnya sampai pada batasnya. Perjuangan selama hampir sepanjang usia dewasaku, harus lenyap dalam sekejap. Semua harus raib bagai asap tertiup angin. Beruntungnya, Tuhan masih mempercayakan dua malaikat kecilnya kepadaku. Merekalah alasan aku bertahan hingga hari ini, walaupun harus merelakan semua yang pernah kumiliki.

Ingatanku melayang pada kejadian empat tahun lalu.

“Maafkan, Papa, Ma. Tapi ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan perusahaan keluargaku. Dia akan membantu berapa pun dana yang kita butuhkan, tapi ...,” ujar Raka berusaha memaksakan keinginannya padaku.

“Pa, apa enggak ada cara lain? Gimana keluarga besarmu? Apa mereka setuju?” tanyaku berusaha mengingatkan pada keluarga besarnya.

Dia tidak menjawab. Keheningan beberapa menit, membuatku merasa di atas angin. Aku yakin saat itu, dia takut pada orang tuanya. Mereka pasti akan mendukungku menolak kemauannya yang tidak masuk akal.

Dia menghela napas perlahan,”Ini usul dari Bunda, Ma.”

Perkataannya membuat tubuhku lemas. Serasa semua tulang dan sendi tercabut seketika. Aku menggeleng, menolak untuk percaya kata-katanya barusan. Aku limbung, nyaris terjatuh. Kalau saja tangan kokoh yang selalu memelukku kala kami tidur tidak segera menangkap tubuhku, aku pasti sudah mencium lantai.

“Ma, maafkan Papa,” ucapnya terisak sambil memapahku ke dalam kamar.

Perlawananku ternyata mendapat reaksi keras dari keluarga besar Raka. Penolakanku dianggap suatu pembangkangan pada suami. Label istri dan menantu durhaka sudah resmi diberikan kepadaku. Dalam diam dan kepasrahan, aku terus berjuang mempertahankan hakku sebagai istri dan ibu dari dua anakku. Penentangan yang terus aku tunjukkan, membuat Raka dan mertuaku berang. Akhirnya mereka memutuskan bahwa aku akan kehilangan hak untuk memperoleh harta gono gini bila terjadi perceraian.

“Ambil semua, Pa. Aku rela, asal jangan kalian ambil anak-anakku!” ucapku tegas tanpa ragu.

Harta bisa dicari, rezeki akan selalu ada selama kita berikhtiar. Aku tidak akan pernah takut menjadi miskin. Karena aku sudah kenyang merasakan hidup dengan segala keterbatasan di sebuah panti asuhan di kota asalku. Kalau kini harus merasakan tidak memiliki apa-apa lagi, itu tidak akan membuatku terpuruk. Akan kuyakinkan pada semua orang bahwa aku baik-baik saja.

Sempat terbersit satu nama yang ingin sekali aku hubungi saat berada di ambang kehancuran. Ya, satu nama yang pernah menemaniku melewati hari-hari penuh warna. Satu nama yang sudah terhapus dari semua memori gadgetku. Aku ingat semua kejadian itu tepat satu bulan setelah memutuskan untuk menghilang dari hidupnya. Aku sadar, hubungan kami kala itu sangat tidak pantas. Walau hanya terhubung lewat media sosial. Tetap saja ada rasa bersalah yang bercokol di hati. Namun, keputusan memilih suami dan keluarga kecilku, justru membuat aku kehilangan segalanya.

 


Weedee, Taipei, 2862020

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Witness

The New Comer

KASIH YANG HILANG