5 Dampak Negatif Kemajuan Teknologi Bagi Anak-anak dan Remaja

5 Dampak Negatif Kemajuan Teknologi Bagi Anak-anak dan Remaja

 

 

Teknologi bisa meracuni dan membuat penggunanya menjadi kecanduan. Terutama pada anak-anak dan remaja yang menggunakan gawai tanpa diawasi orang tua, sehingga mereka tidak bisa lagi memahami nilai, norma, dan struktur sosial serta aturan yang berlaku di masyarakat.

 

Sesungguhnya, teknologi sangat dibutuhkan untuk kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Saat ini, tidak ada bagian kehidupan tanpa melibatkan teknologi. Kemajuan teknologi membuat banyak sendi kehidupan tertolong dan terselamatkan.

 

Namun, seiring dengan itu tidak dapat dipungkiri bahwa dampak negatif dari teknologi tetap tidak bisa dihindari. Terutama bagi anak-anak yang masih rentan. Kecanduan dan ketergantungan anak-anak pada gadget tentu tidak lepas dari peran orang tua yang memberikan kebebasan tanpa pengawasan.

 

Beberapa dampak negatif teknologi pada anak-anak dan remaja yang sering dijumpai di masyarakat di antaranya adalah:

 

1. Pornografi

 

Anak-anak dan remaja adalah sosok yang masih mencari jati diri. Rasa ingin tahunya yang besar, sering membuat mereka salah langkah. Ditambah dengan kemudahan yang disediakan oleh gadget, membuat mereka bebas berselancar kemana pun di dunia maya. Salah satu dampak dari seringnya menonton konten berbau pornografi adalah kerusakan pada otak. Banyak kasus terjadi akibat menonton pornografi. Seperti perkosaan anak di bawah umur yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja usia sekolah.

 

2.  Kurangnya kemampuan untuk bersosialisasi

 

Di Jepang ada fenomena Hikikomori belakangan ini. Hikikomori adalah menarik diri dari hubungan sosial dan masyarakat. Pelaku hikikomori lebih suka mengurung diri dan berkutat dengan komputer atau gadgetnya. Tidak peduli pada pendidikan, kesehatan, bahkan masa depannya. Bila hal ini terjadi pada dua puluh persen saja generasi muda, apa yang akan terjadi? Bisa kita bayangkan suatu negara tanpa penerus. Bila dari sekarang pengawasan penggunaan gadget tidak dilakukan, bukan mustahil hal ini akan terjadi di negara lain, tidak kecuali Indonesia.

 

 

 

3.  Menurunnya kemampuan akademis

Banyaknya waktu karena bermain game membuat sebagian pelajar bahkan mahasiswa mengalami penurunan prestasi. Konsentrasi yang tidak lagi terfokus pada pelajaran, mengakibatkan sebagian dari mereka kehilangan ketertarikan pada sekolah. Bagi para gamers, prestasi bidang akademis bukan lagi kebanggaan. Mencapai level tertinggi pada sebuah game merupakan pencapaian yang diimpikan setiap gamers. Miris memang, di satu sisi orang tua menyediakan gadget untuk mempermudah putra putrinya mengakses informasi. Namun, tanpa pengawasan tegas dari orang tua, semua  itu justru berdampak buruk.

 

4. Menurunnya kepekaan sosial

Berkurangnya interaksi sosial menyebabkan menurunnya kepekaan sosial pada anak-anak dan remaja. Cenderung sibuk dengan gadget, mendorong mereka tidak lagi mempunyai kepedulian sosial. ‘Bukan urusan saya’ menjadi slogan pembenaran pada setiap masalah yang timbul di lingkungan.

 

5. Perundungan Online atau Cyber Bullying

Mem-bully tidak lagi hanya dilakukan secara langsung. Sejak maraknya aplikasi media sosial yang memudahkan semua orang mengakses berita, cyber bullying menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Dampak perundungan online ini tidak hanya pada korban, tetapi bisa mencakup semua aspek yang terkait dengannya. Perundungan di dunia maya maupun nyata mengakibatkan trauma yang sama berat pada korban.

 

Kemajuan teknologi harus dibarengi dengan kesiapan mental masyarakat untuk menerima perubahan yang cepat dan tanpa henti. Teknologi identik dengan kemudahan, jangan sampai hal itu disalahgunakan oleh anak-anak dan remaja.   Kebijakan orang tua dan pengawasan dalam menggunakan gadget adalah kunci untuk menghindarkan generasi penerus dari kerusakan moral di masa depan.

 

 

 

Weedee, Taipei, 1472020

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Witness

The New Comer

KASIH YANG HILANG